CARA AGAR DISAYANG SUAMI
Dalam sebuah kehidupan rumah tangga keharmonisan hubungan suami istri sangat diidam - idamkan bagi setiap pasangan. apalagi di era sekarang mempertahankan keharmonisan tersebut memerlukan sedikit usaha. Banyak hal sebenarnya dapat kita lakukan (khususnya bagi istri) agar dapat selalu disayang oleh suaminya. Berikut Tips nya :
1. Taat.
Suami dengan
segala kelebihannya telah dijadikan Allah sebagai pemimpin bagi wanita.
Keluarga ibarat sebuah kapal, maka mestilah ada yang menahkodainya. Itulah
suami yang yang akan membawanya kemana kapal berlabuh. Karena itu, istri
shalihah harus senantiasa mematuhi suaminya, kecuali dalam maksiat kepada
Allah. Rasulullah saw. bersabda:
Seandainya
aku memerintahkan agar seseorang bersujud kepada orang orang lain maka pasti
(yang paling dulu) aku memerintahkan agar seorang wanita (istri) bersujud
kepada para suaminya. (HR at-Tirmidzi).
2. Pandai
menjaga amanatnya sebagai ibu (ummie).
Tugas utama
seorang ibu adalah merawat (baik dari sisi fisik maupun psikologisnya),
membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Tugas ini tidak boleh diabaikan. Agar suami
senang, anak harus selalu terawat kebersihan-nya, juga kondisi psikologisnya.
Akan sangat tidak enak tentunya kalau suami pulang ke rumah melihat anak-anak
yang masih tampak kotor karena belum mandi sore, atau menangis tidak mau
berhenti hanya karena ibunya tidak peka melihat keinginan anak. Kegesitan dan
kecermatan ibu ketika pagi hari harus menyiapkan anak-anak yang akan berangkat
sekolah juga akan membuat suasana rumah terasa lebih segar. Dengan begitu,
suami juga akan merasa tenang ketika akan memulai aktivitasnya.
3. Pandai
menjaga amanat sebagai pengatur rumah tangga (rabbah al-bayt).
Rumah akan
sangat terasa nyaman jika senantiasa tampak tertata, teratur dan bersih. Fisik
rumah tentu bukan menjadi syarat utama. Yang penting, bagaimana istri bisa
mengatur dan menjaga kebersihan rumah sehingga semua anggota keluarga, termasuk
suami, betah tinggal di dalamnya.
4. Pandai
menjaga diri, kehormatan dan harta suami.
Ketika suami
tidak di rumah, istri shalihah harus pandai menjaga diri dan harta suami dengan
sebaik-baiknya. Ia tidak sembarangan menerima tamu di rumah atau melakukan
aktivitas yang tidak ada manfaatnya, seperti ngobrol ngalor-ngidul dengan
tetangga yang kadang secara tidak sengaja akan bercerita tentang keburukan
suami atau keluarga.
Rasulullah
saw. bersabda:
Tidak ada
sesuatu yang berfaedah bagi seorang Mukmin setelah ketakwaan yang lebih baik
baginya daripada seorang istri shalihah, yakni…yang jika suaminya tidak ada di
sisinya, ia menjaga diri dan harta suaminya. (HR Ibn Majah).
5. Berilah
penghargaan dan kejutan.
Semua orang,
tak terkecuali suami, sangat senang jika dihargai. Penghargaan tidak selalu
dalam wujud materi, tetapi bisa pujian atau pelukan mesra. Cobalah sekali-kali
bawakan oleh-oleh kesukaannya saat dia dengan rela menjaga anak-anak ketika
istri harus keluar rumah untuk berdakwah; kirimkan sms penuh kebanggaan ketika
suami selesai mengisi dengan sukses sebuah acara sebelum peserta memberikan
applause; atau berilah hadiah spesial pada saat-saat tertentu.
6.
Menyenangkan jika dipandang.
Nabi
Muhammad saw. bersabda: Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia
adalah wanita shalihah. (HR Muslim).
Tidak ada
sesuatu yang berfaedah bagi seorang Mukmin setelah ketakwaan yang lebih baik
baginya daripada seorang istri shalihah, yakni yang jika suami memerintahnya,
ia menaatinya; jika suaminya memandangnya, ia membuat suaminya bahagia… (HR Ibn
Majah).
Perempuan
cantik memang enak untuk dipandang. Namun, kecantikan fisik bukan segalanya,
karena istiri semakin lama juga akan semakin tua. Buatlah suami agar selalu
merasa senang dan betah di rumah dengan memberi kesetiaan yang ikhlas, senyuman
yang tulus dan menawan, serta cinta dan pengorbanan. Panggillah dengan
panggilan yang paling dia sukai.
7. Bertutur
kata lembut.
Saling
menasihati antar suami-istri harus selalu dilakukan. Bagaimanapun, tidak ada
manusia yang sempurna. Siapa pun suatu saat bisa melakukan kesalahan. Karena
itu, penting istri untuk tidak lupa mengingatkan suami ketika dia alpa.
Lakukanlah semua itu dengan penuh kelembutan. Pilihlah kata-kata yang baik dan
santun selama berdialog. Rendahkan nada bicara dan usahakan dengan intonasi
yang terkontrol. Kata-kata yang baik, jika disampaikan dengan cara yang lembut,
akan melahirkan kekuatan yang besar. Semua itu, insya Allah, akan bisa
menggerakkan jiwa yang lemah, membangkitkan semangat orang yang putus asa, dan
menenteramkan hati yang gelisah. Ia juga akan meluluhkan sikap yang kaku
sehingga nasihat yang semula tidak bisa masuk berubah menjadi nasihat yang
menggugah dan menyadarkan.
8. Tidak
membebani, tetapi membantu mencari solusi.
Kehidupan
berumah tangga tentu tidak lepas dari persoalan. Sebagai istri shalihah, ketika
persoalan itu datang, bantulah suami untuk mencari solusi. Kalau tidak mampu,
jangan menambah persoalan baru atau bahkan menuntut sesuatu di luar batas
kemampuan-nya. Persoalan-persoalan kecil yang mampu diselesaikannya sendiri dan
tidak memerlukan izin suami, selesaikanlah dengan segera. Jadikanlah diri istri
menjadi tempat yang nyaman buat suami untuk mengadu dan menumpahkan kepenatan
setelah seharian keluar rumah untuk mencari rezeki atau berdakwah. Biasakan
untuk selalu bersyukur dengan semua nikmat yang didapat, bersabar ketika
menghadapi kesulitan, tawakal jika mempunyai rencana, dan bermusyawarah dalam
menyelesaikan persoalan.
9. Pandai
melayani suami.
Urusan
perempuan memang tidak hanya seputar sumur, dapur dan kasur. Namun, istrilah
yang bertanggung jawab untuk ketiga urusan itu. Bisa saja ada pembantu yang
memasak, tetapi menyiapkan makan, minum dan segala keperluan suami di dalam
rumah merupakan kewajiban istri. Lakukan semua itu dengan ikhlas dan penuh rasa
cinta. Tentu akan berbeda rasanya teh manis buatan istri tercinta dibandingkan
dengan buatan pembantu. Insya Allah, akan terasa lebih nikmat. Jadilah istri
yang selalu siap “melayani” suami dan pandai membuatnya “bergairah”.
10. Jadilah
pemaaf dan ringan berterima kasih.
Manusia
selamanya tetap manusia, yang memiliki sifat pelupa dan khilaf. Wajar jika
suami atau istri sekali waktu berbuat keliru. Karena itu, diperlukan upaya
saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran agar tetap di jalan Allah.
Jadilah istri yang pemaaf dan tahu berterima kasih.